Google merilis produk terbaru dari Google Labs yang diberi nama Google Earth Engine bersamaan dengan the International Climate Change Conference di Cancun, Mexico. Google Earth Engine adalah teknologi terbaru dari Google yang menyediakan data dan citra satelit yang belum di publish sebelumnya untuk tujuan penelitian.

Forest cover loss in the Congo for the past 10 years

Dengan Google Earth Engine, para peneliti dan scientist bisa memanfaatkannya untuk analisis monitoring dan pengukuran perubahan lingkungan bumi dalam skala global. Data ini termasuk citra satelit Landsat 25 tahun terakhir dan juga citra satelit MODIS. Platform teknologi yang digunakan memanfaatkan infrastruktur Google Cloud. Google menyediakan tool analisis ini secara gratis untuk scientist dan negara berkembang untuk memanfaatkannya.

Google yang merilis platform Google Earth Engine pada Konferensi Perubahan Iklim Internasional ingin menunjukkan bahwa tool ini memungkinkan para ilmuwan untuk memonitor hutan dari komputer mereka dalam hitungan detik. Gambar hutan yang ditampilkan layanan ini diambil melalui satelit milik Amerika Serikat dan Prancis kemudian dimasukkan ke pusat data dengan menggunakan teknologi cloud computing. Gambar diatas adalah contoh data “Forest Cover Loss” di Congo Afrika selama 10 tahun (2000 – 2010) menggunakan data Landsat ETM+.

Selama dua tahun ke depan, Google melalui unit filantropinya, Google.org akan memberikan layanan 10 jam kepada negara-negara berkembang untuk dapat mengakses data dari Google Earth Engine.

Selengkapnya tentang Google Earth Engine, silahkan kunjungi http://earthengine.googlelabs.com untuk melihat contoh hasil penelitian yang sudah ada, atau http://google-latlong.blogspot.com tentang rilis tool tersebut. Anda juga bisa melihat Google Earth Overview video di bawah ini.