Semenjak ESRI mengenalkan ArcGIS pada awal tahun 2000, beberapa vendor penjual ArcView 3.x masih menyakinkan para kliennya, baik konsultan pemetaan dan maupun pemerintah daerah pengguna software tersebut, bahwa ESRI masih melakukan support dan ArcView 3.3 masih tersedia jika ada yang ingin membelinya. Saya sendiri melihat sebuah lembaga penelitian di UI masih bisa mendapatkan ArcView 3.3 pada tahun 2003 lalu.

ArcView dikenalkan pada awal tahun 1990-an dalam tampilan Graphical User Interface (GUI) yang sangat user friendly dibandingkan ArcInfo yang berjalan di DOS dengan command line yang sangat ‘ribet’. Pada era yang sama Operating System Windows memang sedang booming dengan GUI-nya yang memudahkan pengguna PC. Tidak cuma itu saja yang membuat ArcView lebih popular pada era tersebut. Penambahan fungsi dan tools dengan memanfaatkan extensions dan script avenue menjadikan analysis ruang muka bumi lebih mudah dan lebih cepat. Seperti diketahui user bisa membuat extensions dan script avenue versi mereka sendiri untuk aplikasi yang mereka buat. Kumpulan extensions ArcView 3.X yang dibagikan diblog ini juga merupakan produk dari user yang membuat extensions tersebut untuk kemudahan analysis dan operational ArcView itu sendiri.

Pengalaman secara kartografis dalam membuat peta menjadi bukan hanya sekedar peta dengan informasi yang ingin disampaikan tapi juga mengandung unsur seni dan keindahan menjadi hal menarik lainnya dalam era Windows dengan GUI-nya di lingkungan ArcView meninggalkan ArcInfo dengan versi DOS-nya.  Penggunaan template layout dengan sekali klik dan atau copy paste dari layout sebelumnya sangat memudahkan dan bisa dilakukan dengan cepat. Sungguh pengalaman yang menyenangkan.

Kemudian ArcGIS muncul. Saya pertama kali mengenal ArcGIS versi 8.1, namun baru menginstall di computer untuk versi 8.3. Yang dirasakan ketika itu adalah, program tersebut ternyata berjalan sangat lambat  dan GUI-nya tampak terkesan ‘membingungkan’ untuk saya yang lebih dulu familiar dengan ArcView 3.x. Saya sempat mendemokan penggunaan 3D Analyst pada ArcGIS 8.3 di Dinas Pemotretan Foto Udara TNI AU (DISPOTRUD TNI AU) kepada (Alm) Letkol Adril Jafara dan staf-nya pada pelatihan 3 hari di Halim. Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT.

Saat ArcGIS 9.0 rilis, GIS user mulai banyak membicarakannya. ArcGIS bajakan banyak dicari-cari. Namun lagi-lagi kekecewaan muncul karena sulitnya instalasi, lambat untuk running, proses geoprocessing yang tidak secepat ArcView 3.x serta ‘aturan’ single layout pada setiap projectnya membuat mereka berpikir ulang untuk migrasi ke ArcGIS. Namun alasan utamanya tentu saja COST. Biaya pembelian ArcGIS bisa mencapai 20x lipat dari harga ArcView 3.3 original. Tergantung paket modul yang dipilih tentunya, ArcGIS ArcView saja, ArcEditor atau ArcInfo, lalu extensions apa saja yang dibutuhkan. Untuk Anda ketahui bahwa kantor tempat saya bekerja  membeli ArcEditor seharga Kijang Innova seri E!!

Alasan lainnya mengapa masih menggunakan ArcView 3.x adalah arsip ArcView Project (*.apr) yang di dalamnya bisa saja terdapat formula analysis, kumpulan query yang rumit, layout yang berpuluh-puluh jumlahnya dan mungkin kustomisasi script Avenue pada aplikasi GIS tersebut yang tidak bisa begitu saja di migrasikan secara mudah ke ArcGIS. Karena apr dan mxd memang berbeda, walaupun ArcGIS mampu membaca apr, namun tidak seluruh view dan layout apr dibaca oleh ArcGIS yang menganut ‘only one layout per project’.

Seperti pengalaman saya menggunakan ArcGIS untuk pertama kalinya seperti yang saya sebut diatas, fungsionalitas ArcView 3.x lebih mudah ditemukan dan digunakan serta lebih cepat memproses perintah yang kita inginkan dibandingkan dengan ArcGIS bahkan untuk versi 9.2 sekalipun. ArcGIS memang memiliki segalanya dalam ArcToolBox dan extension-nya, namun Anda pasti setuju dengan saya, tidak mudah menemukan tools jika Anda  belum pernah atau baru sekali mencari tools yang Anda butuhkan itu. Jujur saja, saya selalu menggunakan tab index pada ArcToolBox untuk menemukan fungsi Merge Datasets Feature! Karena memang tidak setiap saat saya menggunakan fungsi tersebut. Bandingkan dengan ArcView yang menjadikan fungsi tersebut dalam satu extension Geoprocessing.

Bukti lainnya adalah update luas/panjang dan koordinat lokasi suatu feature, kecuali Anda memilliki Xtools Pro, maka updating tersebut di ArcGIS menjadi hal yang menjengkelkan untuk user yang merasa ‘dipaksa’ menggunakan coding VB di jendela Field Calculator. Walaupun tersedia di Help, namun coding tersebut terlalu panjang untuk diingat. Bandingkan dengan ArcView yang cukup mengetikkan [Shape].ReturnArea (untuk luas), [Shape].ReturnLength (untuk panjang) dan [Shape].ReturnCenter.GetX / [Shape].ReturnCenter.GetY (untuk koordinat), hanya butuh sebaris code yang sangat mudah diingat dibanding kan dengan coding berikut :

(Update Luas)                  (Update Panjang)             (Update Koordinat)
Dim Output as double    Dim Output as double      Dim Output As Double
Dim pArea as Iarea         Dim pCurve as Icurve        Dim pPoint As IPoint
Set pArea = [shape]        Set pCurve = [shape]          Set pPoint = [Shape]
Output = pArea.area      Output = pCurve.Length    Output = pPoint.X

Anda setuju dengan alasan-alasan saya mengapa masih menggunakan ArcView 3.x ? Tentu saja Anda boleh berbeda, namun saya yakin mereka yang setuju dengan saya akan tetap menggunakan ArcView 3.x untuk proses editing dan updating serta analysis dengan segala kemudahan dan kecepatannya. Editing telah di dukung dengan ET 3.6 yang free, updating dan analysis lebih mudah dengan Xtools. Apalagi ArcView 3.x bisa di install di Windows Vista, so what do you think?